PEMIKIRAN LOCKDOWN




PEMIKIRAN LOCKDOWN

Membosankan, diam dirumah selama berhari-hari dengan terus menerus melakukan kegiatan yang sama. Bangun, makan, mandi, main hp, tiduran, nonton, kuliah online, tidur, maybe tidak jauh dari situ kegaitan kita selama lockdown. Lama-lama hidup bagaikan dipenjara, padahal dirumah sendiri seharusnya lebih bebas berkreasi, kalau lagi scoll sosial media berita tentang social distancing sudah menjadi santapan setiap hari. Di balik kemageran yang kini tengah dirasakan, tidak sedikit orang yang keluar rumah dan mulai membantu sesama. Ada yang mengatasnamakan sebuah lembaga, organisasi, kelurahan, desa, kecamatan dan lainnya. Ada juga yang memang ingin niat membantu tanpa gandengan dari pihak lain hanya menggunakan kendaraan pribadi, membawa beberapa bingkisan dan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Setelah ku berfikir dan mengamati cukup lama ternyata banyak sekali orang yang berubah dikarenakan wabah. Bukan hanya dari segi aksi kemanusiaan namun dari segi spiritual pun ada yang berubah. Wabah seperti sebuah sarana pengingat bagi sebagian orang.

Kutahu  aku ingin membantu tetapi takut untuk keluar dan berinteraksi dengan banyak orang, ingin membagikan sedekah tapi ngitung pengeluaran yang semakin tidak terkontrol, ingin melakukan sesuatu yang ada difikiran tapi tubuh tidak ikut berjalan. Ahh dasar aku. Menatap langit langit kamar yang putih setiap hari tidak akan merubahnya menjadi biru maupun ungu. Seperti sebuah sambaran kilat yang tiba-tiba datang kedalam fikiran ku yang membuat aku mulai sadar akan sesuatu. Orang-orang berusaha menjadi lebih baik dan memanfaatkan momentum ini dengan bijak sedangkan aku, apa yang aku lakukan selama ini ?.

Asstagfirullah, Alhamdulillah. Aku pun mulai menirikan tubuh yang sedari tadi menempel di dunia kapuk. Aku harus bertindak. Jangan lemahkan pemikiran , jangan pertaruhkan otak dengan tubuh yang ingin manja. Aku harus bergegeas, karena aku telah kehilangan banyak hal yang berharga. Waktu yang tidak bisa dibeli ini harus aku manfaatkan juga. Mulailah aku menulis target untuk beberapa jam kedepan dan hari esok. Ini adalah kesempatan emas, karena disituasi yang seperti ini peluang untuk berkembang sangat banyak. Apakah aku masih belum sadar juga, coba lihat beberapa orang yang mulai menebar kebaikan, liat mereka yang diam-diam dirumah mulai menghafal Al-Qur’an, waktu mereka berharga dan mereka menjadikannya semakin berharga. Aku sudah bosan dengan beritanya tapi baru sadar sekarang, sungguh Allah maha adil. Dia menyadarkan aku yang menganggap semua perilaku yang ada diluar sana ada bukan hanya untuk di lihat dan didengarkan. Tapi ini juga harus dilakukan, tentunya dengan versi yang sesuai kemampuan. Aku tersadar dan menyesal, telah melewati waktu dengan sia-sia yang tidak dapat di tarik lagi. Pada satu sisi, aku beruntung karena bisa segera menyadarinya. Tidak akan aku sia-siakan lagi kesempatan ini. Dear diriku, tetaplah sadar seperti ini, tetaplah bergerak, bersegeralah, kamu tidak boleh menyia-nyiakannya lagi.








Komentar

  1. Salam sister. My name is Ifa too! I just started a blog at blogspot. Good to read the translated version of your blog. Wish you all the best.

    BalasHapus
  2. Hi welcome to my blogspot. :) , i hope you come again and enjoy my blog :)

    BalasHapus

Posting Komentar