KATA
PENGANTAR
Segala puji
bagi Allah yang telah melimpahkan karunia dan nikmat bagi umat-Nya.
Alhamdulilaah Makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini
disusun untuk memenuhi salah satu pelajaran biologi Judul “KULTUR JARINGAN ”,
karena terbatasnya ilmu yang dimiliki maka Makalah ini jauh dari sempurna untuk
itu saran dan kritik yang membangun sangat di harapkan.
Tidak lupa saya
sampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah
turut membantu dalam penyusunan Makalah ini. Semoga bantuan dan bimbingan yang
telah diberikan kepada saya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin
Akhirnya saya berharap semoga Makalah ini
bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi pembaca.
Sumbawa besar 9 Februari 2015
( sri syarifah husnul khotimah )
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI
ii
BAB I. PENDAHULUAN iii
- Latar Belakang
- Perumusan
masalah
- Tujuan Penulisan
BAB II. PEMBAHASAN
APengertianKulturJaringan 1
B.
Tahapan yang dilakukan 3
C. Tujuan dan manfaat kultur jaringan
6
D. Metode dalam kultur jaringan
8
E.
Macam kultur jaringan
9
F. Jenis dalam kultur jaringan 16
G. Masalah dalam kultur jaringan 17
H. Kelebihan dan kekurangan kultur
jaringan 20
BAB III. PENUTUP
AKesimpulan 22
B.Saran 22
DAFTAR
PUSTAKA 23
Latar
Belakang
Melalui kultur jaringan tanaman
dapat diperbanyak setiap waktu sesuai kebutuhan karena faktor perbanyakannya
yang tinggi. Bibit dari varietas unggul yang jumlahnya sangat sedikit dapat
segera dikembangkan melalui kultur jaringan. Pada tanaman perbanyakan melalui
kultur jaringan, bila berhasil dapat lebih menguntungkan karena sifatnya akan
sama dengan induknya (seragam) dan dalam waktu yang singkat bibit dapat
diproduksi dalam jumlah banyak dan bebas penyakit.
Kultur jaringan adalah metode
perbanyakan vegetatif dengan menumbuhkan sel, organ atau bagian tanaman dalam
media buatan secara steril dengan lingkungan yang terkendali.
Tanaman bisa
melakukan kultur jaringan jika memiliki sifat totipotensi, yaitu kemampuan sel
untuk beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali.
1. Apa pengertian kultur jaringan?
2. Bagaimana tahapan pada kultur jaringan?
3. Apa manfaat,tujuan dan metode yang digunakan dalam kultur jaringan?
4. Apa saja jenis kutur jaringan dan macamnya ? 5.Apa saja masalah, kekurangan dan kelebihan kultur jaringan?
Tujuan
Untuk mengetahui cara pengelolaan
kultur jaringan dan manfaat dari kultur
jaringan serta keunggulan dan kekurangan dalam kultur jaringan.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kultur Jaringan
Kultur jaringan merupakan terjemahan dari Tissue culture. Tissue dalam bahasa
Indonesia adalah jaringan yaitu sekelompok sel yang yang mempunyai fungsi dan
bentuk yang sama, culture
diterjemahkan sebagai kultur atau pembudidayaan. Sehingga kultur jaringan
diartikan sebagai budidaya jaringan/sel tanaman menjadi tanaman utuh yang kecil
yang mempunyai sifat yang sama dengan induknya.
Street (1977) mengemukakan terminologi, plant tissue culture is generally used for
the aseptic culture of cells, tissues, organs, and their components under
defined physical and condition in vitro. Atau: Kultur Jaringan adala kultur
aseptik dari sel, jaringan, organ, atau bagian lain yang kompeten untuk
dikulturkan dalam komposisi kimia tertentu dan keadaan lingkungan terkendali.
Thorpe (1990)
melanjutkan defenisi tersebut, plant
culture/tissue culture,also referred to as in vitro, aseptik, or sterile
culture is an important tool in both basic and applied studies as well as in
commercial application. Artinya, kultur jaringan dapat didefenisikan
sebagai metode untuk mengisolasi bagian tanaman seperti protoplasma, sel,
sekelompok sel, jaringan dan organ dan menumbuhkannya dalam media yang tepat
dan kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri
dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap.
Salah satu teknik bioteknologi yang sering
digunakan adalah kultur sel dan jaringan. Menurut Suryowinoto (1991) kultur
jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture, weefsel
cultuus, atau gewebe kultur. Kultur adalah budidaya dan jaringan
adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama.
Kultur jaringan digunakan sebagai istilah
umum yang juga meliputi kultur organ ataupun kultur sel. Istilah kultur sel
digunakan untuk berbagai kultur yang berasal dari sel-sel yang terdispersi yang
diambil dari jaringan asalnya, dari kultur primer, atau dari cell
line atau cell strain secara enzimatik, mekanik, atau
disagregasi kimiawi. Terminologi kultur histotypic akan diterapkan
untuk jenis kultur jaringan yang menggabungkan kembali sel-sel yang telah
terdispersi sedemikian rupa untuk membentuk kultur jaringan.
Kultur sel dan jaringan dapat digunakan pada
hewan dan tumbuhan. Kultur jaringan hewan merupakan suatu teknik untuk
mempertahankan kehidupan sel di luar tubuh organisme. Lingkungan sel dibuat
sedimikian rupa, sehingga menyerupai lingkungan asal dari sel yang
bersangkutan. Sel yang dipelihara bisa berupa sel tunggal (kultur sel), sel di
dalam jaringan (kultur jaringan), maupun sel di dalam organ (kultur organ)
(Listyorini, 2001). Teknik pembuatan kultur primer pada kultur sel, jaringan,
dan organ hewan pada dasarnya sama. Sel, jaringan, atau organ hewan diambil
dari tubuh hewan dan mulai dipelihara di dalam kondisi in-vitro. Selama di
dalam kultur primer semua kebutuhan sel baik sebagai sel tunggal (kultur sel),
sebagai bagian dari jaringan (kutur jaringan), maupun sebagai bagian organ
(kultur organ) harus dipenuhi agar sel dapat hidup dan menjalankan fungsi
normalnya.
Kultur jaringan pada tumbuhan merupakan salah
satu teknik perbanyakan tumbuhan yang menggunakan sel atau organ atau jaringan
tumbuhan Kultur jaringan pada suatu tumbuhan merupakan suatu cara
membudidayakan suatu jaringan tumbuhan menjadi tumbuhan kecil yang mempunyai
sifat seperti induknya (Hendaryono, 1994).
TAHAPAN
PEMBUATAN KULTUR JARINGAN
1.
Pembuatan Media
Media merupakan
faktor penentu dalam perbanyakandengan kultur jaringan. Komposisi media
yangdigunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akandiperbanyak. Media yang
digunakan biasanya terdiri darigaram
mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu,diperlukan juga bahan tambahan
seperti agar, gula,
danlain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon)
yangditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupunjumlahnya, tergantung dengan
tujuan dari kultur jaringanyang dilakukan. Media yang sudah jadi
ditempatkanpada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yangdigunakan juga
harus disterilkan dengan caramemanaskannya dengan autoklaf.
Macam
media:
Ada dua penggolongan media tumbuh
Metode pada
dilakukan dengan tujuan mendapatkan kalus dan kemudian dengan medium
diferensiasi yang berguna untuk menumbuhkan akar dan tunas sehingga kalus dapat
tumbuh menjadi planlet. Media padat adalah media yang mengandung semua komponen
kimia yang dibutuhkan oleh tanaman dan kemudian dipadatkan dengan menambahkan
zat pemadat. Zat pemadat tersebut dapat berupa agar-agar batangan, agar-agar
bubuk, atau agar-agar kemasan kaleng yang yang memang khusus digunakan untuk
media padat untuk kultur jaringan.
Media yang
terlalu padat akan mengakibatkan akar sukar tumbuh, sebab akar sulit untuk
menembus ke dalam media. Sedangkan media yang terlalu lembek akan menyebabkan
kegagalan dalam pekerjaan. Kegagalan dapat berupa tenggelamnya eksplan yang
ditanam. Eksplan yang tenggelam tidak akan dapat tumbuh menjadi kalus, karena
tempat area kalus yaitu pada irisan (jaringan yang luka) tertutup oleh medium.
Metode padat
dapat digunakan untuk metode kloning, untuk menumbuhkan protoplas stelah diisolasikan,
untuk menumbuhkan planlet dari protokormus stelah dipindahkan dari suspensi
sel, dan untuk menumbuhkan planlet dari prtoplas yang sudah difusikan
(digabungkan).
Penggunaan
metode cair ini kurang praktis dibandingkan dengan metode padat, karena untuk
menumbuhkan kalus langsung dari ekspaln sangat sulit sehingga keberhasilannya
sangat kecil dan hana tanaman-tanaman tertentu yang dapat berhasil.Oleh karena
itu, penggunaan media cair lebih ditekankan untuk suspensi sel, yaitu untuk
menumbuhkan plb (prtocorm like bodies).Dari protokormus ini nantinya dapat
tumbuh menjadi planlet apabila dipindahkan kedalam media padat yang sesuai.
Pembuatan
media cair jauh lebih cepat daripada media padat, karena kita tidak perlu
memanaskannya untuk melarutkan agar-agar.Media cair juga tidak memerlukan zat
pemadat sehingga keadaannya tetap berupa larutan nutrein.
2.
Inisiasi
Inisiasi adalah pengambilan eksplan/inokulum dari bagian
tanaman yang akandikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan
untukkegiatan kultur jaringan adalah tunas.Inokulum dapat diambil dari potongan
yangberasal dari kecambah atau jaringan tanaman dewasa yang mengandung jaringan
meristem.
3.
Sterilisasi
Sterilisasi adalah bahwa
segala kegiatandalam kultur jaringan harus dilakukan ditempatyang steril, yaitu
di laminar flowdan menggunakan alat-alat yang jugasteril. Sterilisasi
juga dilakukan terhadapperalatan, yaitu menggunakan etanol yangdisemprotkan
secara merata padaperalatan yang digunakan. Teknisi yangmelakukan kultur
jaringan juga harussteril.
4.
Multiplikasi
Multiplikasi adalah
kegiatanmemperbanyak calon tanaman denganmenanam eksplan padamedia. Kegiatanini
dilakukan di laminar flow untukmenghindari adanya kontaminasi
yangmenyebabkan gagalnya pertumbuhaneksplan. Tabung reaksi yang telahditanami
ekplan diletakkan pada rak-rakdan ditempatkan di tempat yang sterildengan suhu
kamar.
5.
Pengakaran
Fase dimana eksplan akanmenunjukkan adanya
pertumbuhan akar yangmenandai bahwaproses kultur jaringan yangdilakukan mulai
berjalan denganbaik. Pengamatan dilakukansetiap hari untukmelihat pertumbuhan
dan perkembangan akarserta untuk melihat adanya kontaminasi olehbakteri ataupun
jamur. Eksplan yangterkontaminasi akan menunjukkan gejala sepertiberwarna putih atau biru (disebabkan jamur)atau busuk (disebabkan bakteri).
6.
Aklimatisasi
Kegiatan memindahkaneksplan keluar dari
ruangan aseptic ke kultur potatau bedeng. Pemindahan dilakukan secarahati-hati
dan bertahap, yaitu denganmemberikan sungkup. Sungkup digunakanuntuk melindungi
bibit dari udara luar danserangan hamapenyakit karena bibit hasil
kulturjaringan sangat rentan terhadap serangan hamapenyakit dan udara luar.
Setelah bibit mampuberadaptasi dengan lingkungan barunya makasecara bertahap
sungkup dilepaskan danpemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yangsama dengan
pemeliharaan bibit generatif.
Tujuan
dan Manfaat Kultur Jaringan
a.
Pengadaan bibit
Penyediaan bibit yang berkualitas baik merupakan
salah satu faktor yang menentukankeberhasilan dalam pengembangan pertanian di
masa mendatang.Pengadaan bibit pada suatu tanaman yang akan dieksploitasi
secara besar-besaran dalam waktu yang akancepat akan sulit dicapai dengan perbanyakan melalui
teknik konvensional. Pengadaanbibitmembantumemperbanyak tanaman (menyediakan bibit), khususnya
untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif.Keunggulan bibit
hasil kultur jaringan, antara lain:
-
identik dengan induknya
-
massal & hemat tempat
-
waktuyangrelatifsingkat
-
lebih seragam
-
mutu bibit lebih terjamin
-
kecepatan tumbuh bibit lebih cepat
b. Menyediakan bibit bebas
virus/penyakit
Banyak virus yang tak menampakkan
gejalanya, namun bersifat laten, dan akan dapat mengurangi vigor, kualitas dan
kuantitas produksi. Virus dalam tanaman induk merupakanmasalah untuk
perbanyakan vegetatif tanaman hortikultura secara konvensional. Morrel
&Martin (1952) menemukan bahwa pada daerah meristem Martin (1952) menemukan
bahwa pada daerah meristem apikal, ternyata kandungan virusnya paling rendah
bahkan tidak ada. Hal ini mungkin karena virus bergerak melalui sistem
pembuluh, sedang daerah tersebut belum ada sistem pembuluhnya, selain itu
aktivitas metabolisme tinggi pada daerah tersebut tidak mendukung replikasi
virus, juga konsentrasi auksin yang tinggi menghambat multiplikasi.
c. Membantu program pemuliaan
tanaman
Dengan kultur jaringan dapat
membantu program pemuliaan tanaman untuk menghasilkan tanaman yang lebih baik
melalui :
Keragaman Somaklonal, Kultur Haploid, Embryo Rescue,
Seleksi In Vitro, Fusiprotoplas, Transformasi Gen /Rekayasa Genetika Tanaman
dll.
d. Membantu proses konservasi dan
preservasi plasma nutfah
Dilakukandengan
konservasi in vivo dalam bentuk penyimpanan biji dan tanaman hidup (Kebun
Raya), preservasi in vivo dengan cara menyimpan biji. Penyimpanan secara kultur
jaringan dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pertumbuhan minimal (minimal
growth) dan kriopreservasi.Untuk biji ortodoks dalam ruang dengan temperatur
dan kelembaban yang terkendali. Masalahnya pada biji rekalsitran (apalagi yang
ukuran bijinya besar); perlu secara kultur karingan, yaitu sel-sel kompeten
(mampu beregenerasi) disimpan dalam temperatur rendah dan dibekukan dalam
cairan nitrogen (Kriopreservasi). Adapun penelitian penyimpanan secara kultur
jaringan telah dilakukan suatu lembaga (BSJ) terhadap tanaman ubi-ubian, sepeti
ubi kayu, gembili.
e. Memproduksi senyawa kimia
untuk farmasi, industri makan dan industri kosmetik
Sel-sel tanaman yang dapat
memproduksi senyawa tertentu, ditumbuhkan dalam bioreaktor besar. Misalnya
untuk produksi senyawa antibiotik dari suatu jenis fungi. Senyawa hasil
tersebut bisa didapatkan dari hasil sintesis lengkap; juga dapat merupakan
hasil transformasi oleh enzim dalam sel tanaman. Misalnya pewarna merah untuk
lipstik dari tanaman, yang disebut dengan biolips (prod. Kosmetik Kanebo).
Metode dalam
Kultur Jaringan
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu
memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan
secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa
keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat
diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan
tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang
singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih
cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.
Teknik
kultur jaringan memanfaatkan prinsip perbanyakan tumbuhan secara vegetatif.
Berbeda dari teknik perbanyakan tumbuhan secara konvensional, teknik kultur
jaringan dilakukan dalam kondisi aseptik di dalam botol kultur dengan medium
dan kondisi tertentu. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in
vitro. Dikatakan in vitro (bahasa Latin), berarti "di dalam kaca"
karena jaringan tersebut dibiakkan di dalam botol kultur dengan medium dan
kondisi tertentu. Teori dasar dari kultur in vitro ini adalah Totipotensi.
Teori ini mempercayai bahwa setiap bagian tanaman dapat berkembang biak karena
seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup. Oleh karena itu,
semua organisme baru yang berhasil ditumbuhkan akan memiliki sifat yang sama
persis dengan induknya.
Metode
perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu
melalui perbanyakan tunas dari mata tunas apikal, melalui pembentukan tunas
adventif, dan embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun melalui tahap
pembentukan kalus. Ada beberapa tipe jaringan yang digunakan sebagai eksplan
dalam pengerjaan kultur jaringan. Pertama adalah jaringan muda yang belum
mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga
memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe pertama ini biasa
ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar,
maupun kambium batang. Tipe jaringan yang kedua adalah jaringan parenkim, yaitu
jaringan penyusun tanaman muda yang sudah mengalami diferensiasi dan menjalankan
fungsinya. Contoh jaringan tersebut adalah jaringan daun yang sudah
berfotosintesis dan jaringan batang atau akar yang berfungsi sebagai tempat
cadangan makanan.
Macam Kultur
1. Kultur Pucuk
Kultur Pucuk (Shoot culture) adalah teknik mikropropagasi
yang dilakukan dengan cara mengkulturkan eksplan yang mengandung meristem pucuk
(apikal dan lateral) dengan tujuan perangsangan dan perbanyakan
tunas-tunas/cabang-cabang aksilar. Tunas-tunas aksilar tersebut selanjutnya
diperbanyak melalui prosedur yang sama seperti eksplan awalnya dan selanjutnya
diakarkan dan ditumbuhkan dalam kondisi in vivo.
Istilah yang digunakan untuk teknik kultur pucuk ini
tergantung dari eksplan yang digunakan. Jika eksplan yang digunakan adalah
ujung pucuk-pucuk apikal (panjang ± 20 mm) saja maka tekniknya disebut sebagai
“Shoot-tip Culture”, namun bila eksplan yang digunakan adalah ujung pucuk
apikal beserta bagian tunas lain dibawahnya disebut sebagai “Shoot Culture”.
Besar kecilnya eksplan yang digunakan mempengaruhi keberhasilan kultur pucuk.
Semakin kecil eksplan, semakin kecil kemungkinannya untuk terkontaminasi oleh
mikroorganisme namun semakin kecil juga kemampuannya untuk beregenerasi dan
memperbanyak diri. Sebaliknya, semakin besar eksplan yang digunakan maka
semakin besar kemampuannya untuk beradaptasi dalam kondisi in-vitro, namun
makin besar juga kemungkinannya untuk terkontaminasi, makin banyak kebutuhannya
akan media dan makin besar wadah/botol kultur yang diperlukan. Oleh karena itu
perlu diketahui ukuran eksplan yang sesuai untuk masing-masing varietas dan
spesies tanaman.
Tujuan praktis kultur pucuk adalah untuk perbanyakan
vegetatif tanaman, yang mendasari produksi bibit secara komersial. Pucuk awal
ini dalam media yang tepat, membentuk pucuk-pucuk baru yang jumlahnya tergantung
dari jenis, berkisar dari 4-20 an tunas. Setelah di induksi pembentukan akar
pada pucuk, maka akan tumbuh tanaman yang sempurna yang identik dengan induknya
atau merupakan fotokopi dari induknya. Kultur pucuk merupakan dasar dari
kegiatan perbanyakan dalam laboratorium komersial. Pertumbuhan pucuk, pada
umumnya memerlukan zat pengatur tumbuh dalam media. Tahapan pertumbuhan dan
tipe pertumbuhan, menentukan jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang
dibutuhkan. Auksin yang biasanya dipergunakan dalam kultur pucuk, adalah IAA,
NAA dan IBA. Priyono (2004) melaporkan bahwa IAA sangat berperan dalam
memperbaiki tingkat pembentukan tunas mikro pada kultur in vitro ruas T
trianggulare. Penggunaan 2,4-D biasanya dihindarkan, karena 2,4 D cenderung menginduksi
kalus. Dalam kultur pucuk, kalus tidak diinginkan.
Manfaat
perbanyakan in-vitro (kultur pucuk) dalam industri bibit
1)
Dapat digunakan untuk memproduksi bibit dalam
jumlah banyak dan waktu yang relatif singkat. Salah satu keunggulan
mikropropagasi adalah perbanyakan organ tanaman yang dihasilkannya. Penggunaan
hormon pertumbuhan sintetis memungkinkan perbanyakan eksplan dalam jumlah
banyak dan waktu singkat. Perbanyakan di dalam wadah kecil memungkinkan
dilakukan perbanyakan cepat ini. Dewasa ini telah dilakukan automatisasi dalam
mikropropagasi menggunakan mesin pembuat media dan sterilisasi media,
pemotongan dan sterilisasi eksplan yang dikendalikan dengan komputer sehingga
dapat dilakukan perbanyakan secara lebih cepat dan lebih efisien.
2)
Dapat menghasilkan bibit dengan ukuran
seragam. Produksi klon secara in vitro dapat dikontrol lebih mudah dbandingkan
produksinya dilapangan karena perbanyakan dilakukan dalam wadah kecil. Oleh
karena itu bisa dihasilkan klon dengan ukuran yang seragam dalam saat yang
bersamaan. Penanaman bibit yang seragam mempermudah pemeliharaan tanaman di
lapangan dan panen dapat dilakukan secara serempak.
3)
Tidak membutuhkan eksplan dalam jumlah banyak
sehingga menghindari kerusakan tanaman induk. Sebaliknya stek, cangkok, penyambungan/penempelan
yang intensif dari satu pohon induk dapat mengganggu pertumbuhan tanaman induk
bahkan dapat merusaknya.
4)
Dapat digunakan untuk perbanyakan cepat
tanaman langka, tanaman dengan nilai ekonomis tinggi, atau varietas unggul
hasil pemuliaan tanaman.
2.
Embriogenesis
Embriogenesis adalah proses pembentukan dan perkembangan embrio. Proses ini merupakan tahapan
perkembangan sel setelah mengalami pembuahan atau fertilisasi. Embriogenesis
meliputi pembelahan sel dan pengaturan di tingkat sel. Sel pada embriogenesis
disebut sebagai sel embriogenik.
Secara
umum, sel embriogenik tumbuh dan berkembang melalui beberapa fase, antara lain:
1.
Sel
tunggal (yang telah dibuahi)
2.
Blastomer
3.
Blastula
4.
Gastrula
5.
Neurula
6.
Embrio
/ Janin
3.
Kultur
Embrio
Kultur Embrio adalah memisahkan embrio yang belum dewasa dan
menumbuhkan secara kultur jaringan untuk menghasilkan tanaman viable.
Tujuan kultur embrio:
1.
memperpendek
siklus permuliaan : mempercepat perkecambahan bijiyang umur kecambah lama
2.
menguji
kecepatan viabilitas biji : lebih efektif dari pada tes pewarnaan
3.
memperbanyak
tanaman langka : kelapa kopyor
4.
memperoleh
hybrid langka : mengatasi kegagalan persilangan karena poliferasi
terhalang/fertilisasi normal tetapi embrio pada perkembangnnya mati. Kematian
karena sedikitnya endosperm sbg cadangan makanan/endosperm tidak berkembang
Faktor
penentu keberhasilan kultur embrio
1.
factor
grnotip : beberapa jenis tanaman mudah di tumbuhkan dan yang sulit ditumbuhkan
2.
tingkat
perkembangan embrio pada waktu dipisahkan semakin kecil embrio semakin sulit
tumbuh
3.
kecepatan
pertumbuhan tanaman induk : tanaman dari rumah kaca lebih terkontrol sehingga
menghasilkan endosperma yang lebih baik daripada tanaman dari luar
4.
komposisi
media tumbuh : unsure makro, mikro dan gula, ion ammonium dan potassium
(penting)
5.
oksigen
6.
cahaya
: perlakuan awal pada tempat gelap 7-14hari, tanaman di pindah ke tempat terang
untuk pembentukan klorofil
7.
temperature
: optimum tergantung jenis (22-28 C)
4.
Kultur
Meristem
Meristem merupakan kumpulan sel-sel
yang aktif membelah pada tempat tertentu pada tanaman, dimana sel-sel tersebut
akan membentuk sistem jaringan secara permanen seperti akar, tunas, daun, bunga
dan lain-lain. Sel-sel jaringan meristem mempunyai kemampuan embrionik yang
dapat membelah tanpa batas untuk membentuk jaringan dewasa untuk kemudian
menjadi organ-organ tanaman.
Bentuk dan ukuran titik tumbuh
meristem berbeda antara tanaman yang satu dengan lainnya tergantung kelompok
tanaman secara taksonomik. Meristem pada tunas tanaman yang tergolong dikotil
mempunyai lapisan sel-sel yang membentuk kubah yang sel-selnya aktif membelah
berukuran diameter sekitar 0.1-0.2 mm dan panjang 0.2-0.3 mm. Meristem tidak
mempunyai vaskuler yang terhubung dengan jaringan phloem dan xylem pada batang.
Dibawah sel meristem terdapat sel-sel yang membelah dan memanjang yang
berkembang menjadi primordia daun.
Kultur meristem merupakan salah
satu metoda dalam teknik kultur jaringan dengan menggunakan eksplan berupa
jaringan meristematik baik meristem pucuk terminal atau meristem dari tunas
aksilar. Tujuan utama aplikasi kultur meristem adalah mendapatkan dan
memperbanyak tanaman yang bebas virus (eliminasi virus dari bahan tanaman).
Kultur meristem sebagai metoda untuk perbanyakan tanaman yang bebas virus sudah
secara luas diaplikasikan terutama pada tanaman hortikultura. Sel-sel meristem
pada umumnya stabil, karena mitosis pada sel-sel meristem terjadi bersama
dengan pembelahan sel yang berkesinambungan, sehingga ekstra duplikasi DNA
dapat dihindarkan. Hal ini menyebabkan tanaman yang dihasilkan identik dengan
tanaman donornya (Gunawan, 1988). Jaringan meristem merupakan jaringan
vegetatif sehingga plantlet yang dihasilkannyapun merupakan suatu klon. Oleh
karena itu kelompok tanaman yang dihasilkan dari kultur meristem sering disebut
mericlone.
5.
Kultur
Kalus Dan Kultur Suspensi Sel
Kultur kalus merupakan pemeliharaan
bagian kecil tanaman dalam lingkungan buatan yang steril dan kondisi yang
terkontrol (Pauls, 1995 dalam Kulkarni, 2000). Kalus adalah jaringan yang
berproliferasi secara terus menerus dan tidak terorganisasi sehingga memberikan
penampilan sebagai massa sel yang bentuknya tidak teratur. Proliferasi jaringan
ini dapat dilakukan secara tidak terbatas dengan cara melakukan subkultur
sepotong kecil jaringan kalus pada medium yang segar dengan interval waktu yang
teratur (George & Sherrington, 1984). Kalus diinduksi dengan melukai
jaringan tanaman. Menurut George & Sherrington (1984), pemotongan atau
pelukaan jaringan tanaman dapat merangsang pembelahan sel yang berperan dalam
inisiasi pembentukan kalus. Kultur kalus ini merupakan materi penting dalam
kultur suspensi sel tanaman (Allan 1996 dalam Gürel, 2002).
Kultur suspensi sel adalah
pemeliharaan sel, tunggal maupun gabungan beberapa sel, dalam medium cair dan
lingkungan buatan yang steril. Kultur suspensi sel terdiri atas populasi sel
dengan laju pertumbuhan yang cepat karena seluruh permukaan sel dapat kontak
langsung dengan medium nutrisi. Hal ini menyebabkan metabolisme sel lebih
tinggi jika dibandingkan dengan kultur kalus (George & Sherrington, 1984).
Metode kultur suspensi sel dapat
digunakan sebagai sarana untuk produksi metabolit sekunder. Hal ini dapat
terjadi karena setiap sel tumbuhan yang diisolasi dari tumbuhan induknya
mempunyai potensi genetik dan fisiologi yang sama dengan induknya, atau yang
dikenal dengan nama sifat totipotensi. Sifat ini menyebabkan metabolit sekunder
yang dihasilkan oleh tanaman induk dapat pula dihasilkan pada sel yang dikultur
secara in vitro (Fowler, 1981 dalam Mantell & Smith, 1983). Potensi kultur
sel untuk memproduksi metabolit telah dibuktikan pertama kali oleh perusahaan
farmasi Amerika Pfizer Inc pada tahun 1956. Sedangkan potensi kultur sel untuk
memproduksi senyawa bermanfaat terutama untuk obat-obatan, telah dimulai pada
akhir tahun 1960 (Pétiard & Bariaud-Fontanel, 1987 dalam Sasson, 1991).
6.
Kultur
Anther
Anther atau tepung sari secara
alamiah berfungsi menyerbuki maupun membuahi. Teknik kultur Anther relative
sederhana dan efisien, yang paling penting dalam metode ini adalah penentuan
tingkat perkembangan yang paling tepat untuk dijadikan sebagai eksplan sehingga
androgenesis dapat terjadi. Anther
angiospermae secara skematis dan pembentukan tanaman haploid melalui
kultur anther sbb:
Kultur
anther mempunyai kegunaan sebagai berikut:
·
Mampu menghasilkan tan.
haploid (hanya mempunyai satu genom saja (monohaploid)). Tanaman haploid dapat digunakan untuk
pemuliaan tanaman selanjutnya, dari tanaman monohaploid diperkirakan dapat
menghilangkan sifat resesif.
·
Dari monohaploid dapat
dihasilkan derivate yang dihaploid (diploid) dengan cara : Merangkap kromosom
dengan perlakuan colchicin. Mengadakan silangan tanaman monohaploid.
·
Membuat tanaman
homozygote.
Faktor-faktor
yg mempengaruhi keberhasilan produksi haploid melalui kultur In Vitro adalah :
·
Tingkat perkembangan
polen → paling baik digunakan polen pada tingkat pembelahan mitosis pertama
(Uninucleat).
·
Pre-treatmen → beberapa
jenis tanaman memerlukan perlakuan pendahuluan berupa temperatur rendah (3 –
10oC) selama 4 hari (bunga padi), merendam dalam air yang ada butir-butir arangnya atau mengurangi
tekanan atm 12 mg/hg.
·
Media tumbuh → terdiri
dari media dasar, gula, hormone, penambah bahan organik (ekstrak pisang, air
kelapa, endosperm serealia, ekstrak ragi, alanin dan Co-enzym A, merangsang
pertumbuhan Anther.
·
Kondisi tanaman donor →
bunga dari tanaman muda pada saat permulaan pembungaan, lebih baik dari pada
bunga yang keluar kemudian.
Stadium
perkembangan mikrospora dapat dibedakan menjadi beberapa fase, yaitu:
·
Uni-nukleat sangat
awal, dicirikan oleh inti mikrospora di tengah, dinding mikrospora sangat tipis
dan tanpa vakuola
·
Uni-nukleat awal,
dicirikan oleh inti mikrospora di tengah, dinding sudah semakin kuat dan
vakuola kecil bentuk sferik.
·
Uni-nukleat tengah
awal, dicirikan oleh sebagian besar inti mikrospora di tengah sedangkan
sebagian kecil inti mikrospora di tepi, vakuola besar.
·
Uni-nukleat tengah,
hampir sama dengan uninukleat tengah awal tetapi ukuran vakuola dua kali ukuran
vakuola pada stadium sebelumnya.
·
Uni-nukleat akhir,
dicirikan oleh hampir semua mikrospora mempunyai inti di tepi, pada beberapa
jenis sudah berkembang menjadi stadium 2 inti, vakuola besar berbentuk bulat
telur.
Jenis Tanaman
dalam Kultur Jaringan
Kultur jaringan sudah diakui sebagai metode baru dalam perbanyakan tanaman.
Tanaman yang pertama berhasil diperbanyak secara besar-besaran melalui kultur
jaringan adalah tanaman anggrek, menyusul berbagai tanaman hias, sayuran,
buah-buahan, pangan dan tanaman hortikultura lainnya. Selain itu juga saat ini
telah dikembangkan tanaman perkebunan dan tanaman kehutanan melalui teknik
kultur jaringan. Terutama untuk tanaman yang secara ekonomi menguntungkan untuk
diperbanyak melalui kultur jaringan, sudah banyak dilakukan secara industrial.
Namun ada beberapa tanaman yang tidak menguntungkan bila dikembangkan dengan
kultur jaringan, misalnya: kecepatan multiplikasinya terlalu rendah, terlalu
banyak langkah untuk mencapai tanaman sempurna atau terlalu tinggi tingkat
penyimpangan genetik.
Dalam bidang hortikultura, kultur
jaringan sangat penting untuk dilakukan terutama pada tanaman-tanaman yang:
1).
Prosentase perkecambahan biji rendah.
2).
Tanaman hibrida yang berasal dari tetua yang tidak
menunjukkan male sterility.
3).
Tanaman hibrida yang mempunyai keunikan di salah satu
organnya (bentuk atau warna bunga, buah, daun, batang dll).
4).
Perbanyakan pohon-pohon elite dan/atau pohon untuk batang
bawah.
5).
Tanaman yang selalu diperbanyak secara vegetatif,
seperti: kentang, pisang, stroberry dll.
Masalah-masalah
Dalam Kultur Jaringan
Dalam
kegiatan kultur jaringan, tidak sedikit masalah-masalah yang muncul sebagai
pengganggu dan bahkan menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan kegiatan kultur
yang dilakukan. Gangguan kultur secara umum dapat muncul dari bahan yang
ditanam, dari lingkungan kultur, maupun dari manusianya.
Permasalahan
dalam kultur ada yang dapat diprediksi sebelumnya dan ada pula yang sulit
diprediksi kejadiannya. Untuk yang tidak dapat diprediksi, cara mengatasinya
tidak dapat secara preventif tetapi diselesaikan setelah kasus itu muncul.
Adapun
masalah-masalah yang terjadi dalam kultur jaringan yaitu:
1. Kontaminasi
Kontaminasi
adalah gangguan yang sangat umum terjadi dalam kegiatan kultur jaringan.
Munculnya gangguan ini bila dipahami secara mendasar adalah merupakan sesuatu
yang sangat wajar sebagai konsekuensi penggunaan yang diperkaya.Fenomena
kontaminasi sangat beragam, keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis
kontaminasinya (bakteri, jamur, virus, dll).
Upaya mencegah terjadinya kontaminsi:
·
Biasakan membersihkan berbagai sarana yang
diperlukan dalam kultur jaringan.
·
Yakinkan bahwa proses sterilisasi media
secara baik dan benar.
·
Lakukan proses penanaman bahan pada keadaan
anda nyaman dan cari waktu yang longgar.
2. Pencoklatan/browning
Pencoklatan
adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat
tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Peristiwa pencoklatan
sesunggguhnya merupakan peristiwa alamiah yang biasa yang sering terjadi.
Pencoklatan umumnya merupakan suatu
tanda-tanda kemunduran fisiologi eksplan dan tidak jarang berakhir pada
kematian eksplan.
3. Vitrifikasi
Vitrifikasi adalah suatu istilah problem pada
kultur yang ditandai dengan:
·
Munculnya pertumbuhan dan pertumbuhan yang
tidaknormal.
·
Tanaman yang dihasikan pendek-pendek atau
kerdil.
·
Pertrumbuhan batang cenderung ke arah
penambahan diameter
·
Tanaman utuhnya menjadi sangat turgescent.
·
Pada daunnya tidak memiliki jaringan
pallisade
4. Variabilitas Genetik
Bila kultur
jaringan digunakan untuk upaya perbanyakan tanaman yang seragam dalam jumlah
yang banyak, dan bukan sebagai upaya pemuliaan tanaman maka variasi genetik
adalah kendala. Variasi genetik dapat terjadi pada kultur in vitro karena:
·
Laju multiflikasi yang tinggi, variasi
terjadi karena terjadinya sub kultur berulang yang tidak terkontrol
·
Penggunaan teknik yang tidak sesuai.
·
Variasi genetik yang paling umum terjadi pada
kultur kalus dan kultur -suspensi sel, hal tersebut terjadi karena munculnya
sifat instabilitas kromosom mungkin akibat teknis kultur, media atau hormon.
·
Cara mengatasi masalah variasi genetik
tentunya tidak sederhana, harus memperhatikan aspek yang dikulturkan.
5. Pertumbuhan dan Perkembangan
Masalah utama
berkaitan dengan proses pertumbuhan adalah bila eksplan yang ditanam mengalami
stagnasi, dari mulai tanam hingga kurun waktu tertentu tidak mati tetapi tidak
tumbuh. Untuk menghindari hal itu dapat dilakukan dengan preventif menghindari
bahan tanam yang tidak juvenil atau tidak meristematik. Karena awal pertumbuhan
eksplan akan dimulai dari sel-sel yang muda yang aktif membelah, atau dari
sel-sel tua yang muda kembali. Media juag dapat menjadi sebab terjadinya
stagnasi pertumbuhan, karena dari kondisi medialah suatu sel dapat atau tidak
terdorong melakukan proses pembelahan dan pembesaran dirinya.
Pada proses
klutur jaringan yang bersifa inderict embriogenesis, tahapan pembentukan kalus
harus dilanjutkan dengan mendorong induksi embriosomatik dari sel-sel kalus.
Terjadinya embrio somatik dapat secara endogen atau eksogen.
6. Praperlakuan
Masalah pada
kegiatan in vitro bukan hanya dari penanaman eksplan saja, pertumbuahn dan
perkembangannya dlama botol saja tetapi juga sangat bisa dipengaruhi oleh
persyaratan kegiatan prapelakuan. Pada kasus ini masalah akan muncul bila
kegiatan prapelakuaan tidak dilakukan. Prapelakuan dilakukan umumnya untuk
tujuan-tujuan tertentu, secara umum adalah dalam rangka menghilangkan hambatan.
Hambatan apat berupa hambatan kemikalis, fisik, biologis. Hambatan berupa bahan
kimia penanganannya harus dimulai dari pengenalan senyawa aktif, potensi
gangguan, proses reaksi dan alternatif pengelolaannya.
7. Lingkungan Mikro
Masalah
lingkungan inkubator juga tidak bisa diabaiakan karena ini juga sering menjadi
masalah. Suhu ruangan inkubator sangat menentukan optimasi pertumbuhan eksplan,
suhu yang terlalu rendah aatau tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan pada eksplan.
Kebutuhan
antara satu tananaman dengan tanaman yang lain berbeda, namunddemikian
solusinya sulit dilakukan mengingat umumnya ruangan inkubator suatu ruangan
laboratorium kultur jaringan tidak bisa dibuat variasi antara satu ruangan
dengan bagian ruangan yang lainnya. Sehingga optimasi pertumbuhan tidak bisa
diharapkan sama antara kultur yang satu dengan kultur yang lain.
Kelebihan Dan Kekurangan Kultur Jaringan
Kultur jaringan mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam
pelaksanaannya, yaitu:
Kelebihan:
·
Sifat identik dengan induknya;
·
Perbanyakan dalam waktu singkat;
·
Tidak perlu areal pembibitan yang luas;
·
Tidak dipengaruhi oleh musim;
·
Tanaman bebas jamur dan bakteri.
·
Pengadaan bibit tidak tergantung musim
·
Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu
yang relatif lebih cepat (dari satu mata tunas yang sudahrespon
dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit)
·
Bibit yang dihasilkan seragam
·
Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ
tertentu)
·
Biaya pengangkutan bibit relatif
lebih murah dan mudah
·
Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama,
penyakit, dan deraan lingkungan lainnya
·
Dapat diperoleh sifat-sifat yang
dikehendaki
·
Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu
menunggu tanaman dewasa.
Kekurangan:
·
Bibit hasil kultur jaringan sangat rentan
terhadap hama penyakit dan udara luar;
·
Bagi orang tertentu, cara kultur jaringan
dinilai mahal dan sulit;
·
Membutuhkan modal investasi awal yang tinggi
untuk bangunan (laboratorium khusus), peralatan dan perlengkapan;
·
Diperlukan persiapan SDM yang handal untuk
mengerjakan perbanyakan kultur jaringan agar dapat memperoleh hasil yg
memuaskan;
·
Produk kultur jaringan pada akarnya kurang
kokoh.
- Bagi orang tertentu,
cara kultur jaringan dinilai mahal dan sulit.
- Membutuhkan modal
investasi awal yang tinggi untuk bangunan (laboratorium khusus),
peralatan dan perlengkapan.
- Diperlukan persiapan
SDM yang handal untuk mengerjakan perbanyakan kultur jaringan agar dapat
memperoleh hasil yang memuaskan
- Produk kultur
jaringan pada akarnya kurang kokoh
KESIMPULAN
Pada dasarnya, kultur jaringan merupakan
suatu tehnik membiakkan sel atau jaringan ke dalam media kultur, sehingga
tumbuh, membelah, dan menghasilkan tumbuhan baru dengan cepat dan memiliki
sifat yang sama dengan induknya.
Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptic yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.
Dalam kultur jaringan digunakan eksplan, yaitu sel atau irisan jaringan tanaman yang akan menjadi benih tanaman yang baru nanti setelah di kultur jaringan. Faktor eksplan yang perlu diperhatikan adalah genotipe/varietas, umur eksplan, letak pada cabang, dan seks (jantan/betina). Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai eksplan adalah pucuk muda, batang muda, daun muda, kotiledon, hipokotil, endosperm, ovari muda, anther, embrio, dll.
Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptic yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.
Dalam kultur jaringan digunakan eksplan, yaitu sel atau irisan jaringan tanaman yang akan menjadi benih tanaman yang baru nanti setelah di kultur jaringan. Faktor eksplan yang perlu diperhatikan adalah genotipe/varietas, umur eksplan, letak pada cabang, dan seks (jantan/betina). Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai eksplan adalah pucuk muda, batang muda, daun muda, kotiledon, hipokotil, endosperm, ovari muda, anther, embrio, dll.
SARAN
Pelaksanaan kultur jaringan di Indonesia
belum cukup banyak dilakukan. Hal ini dikarenakan kurangnya dana dan fasilitas.
Saya menyarankan kepada pemerintah, sebaiknya pemerintah ikut memperhatikan
masalah mengenai pertanian terutama dalam metode kultur jaringan yang
seharusnya dapat menghasilkan keberhasilan yang besar
DAFTAR PUSTAKA
http://seputar
ilmu penetahuan umum|facebook
Komentar
Posting Komentar