*Kliping
Sejarah*
“Pendapat
para ahli mengenai nenek moyang bangsa Indonesia ,dan sejarah perahu bercadik ”
Di
S
u
S
u
n
Oleh
:
_
SRI SYARIFAH HUSNUL KHOTIMAH_
X-4
SMA
Negeri 2 Sumbawa Besar
Tahun
Pelajaran 2012/2013
Sejarah tentang Perahu
Bercadik
Kapal candik Borobudur adalah perahu peninggalan nenek moyang
pada abad yang ke-8, yang dimana perahu layar yang bercandik ganda yang terbuat
dari kayu yang berasal dari nusantara yang dimana terdapat pada relif candi
Borobudur, yang berada dijawa tengah .
Di Candi Borobudur ada
terdapat gambaran-gambaran perahu, yang dimana terdapat beberapa gambar yang
menggambarkan tentang perahu-perahu yang digunakan oleh para masyarakat dalam
menyelusuri Negara-negara lain untuk mencari rempah-rempah ataupun berdagang
kesuatu Negara.
Pada saat itu pernah
terjadi imigrasi ,yang dimana terjadi perpindahan penduduk dari satu negri
kenegri lain. Dimana orang-orang india dan cina datang keiindonesia mereka
datang dengan tujuan dan maksud mulai dari ingin berdagang ,mencari
barang-barang , ataupun rempah-rempah ,dan mereka menggunakan perahu untuk
menyelusuri keberbagai Negara. Jadi perahu pada .
Kegunaan cadik dalam
perahu cadik Borobudur pada saat itu yaitu untuk menyimbangkan dan digunakan
untuk menatapkan perahunya tersebut.Perahu yang bercadik sama atau kembar
adalah perahu yang berkhas dari bangsa bahari Austronesia yang dimana digunakan
untuk menjelajah berbagai Negara atau bangsa dan penyebaran meliputi Tenggara
Oseania dan Samudera Hindia . jenis perahu cadik yang berukuran besar dan
bercadik kembar yang terdapat pada digambar candi borobudur yang dimana
pada zaman dahulu digunakan oleh dinasti Sailendra dan Kemaharajaan bahari
Sriwijaya yang dimana kerajaan tersebut yang menguasai perairan nusantara pada
abad ke-7 hingga pada abad yang ke-13.
Gambar relief yang
berada di candi Borobudur banyak menampilkan adegan kehidupan sehari-hari jawa
kuno pada saaat itu yang waktu itu pada abad ke-8, mulai dari kehidupan
bangsawan yang ada dikraton pada saat itu hingga rakyat yang berkalangan
bawah.Didalam gambar relief candi Borobudur juga menampilkan beberapa
gambar yaitu berupa candi,pasar,asitektur,satwa dan tumbuhan, perhiasan,pakaian
termasuk kendaraan seperti kereta kuda gajah tunggang, dan perahu dan salah
satunya adalah perahu cadik adalah perahu cadik borobudur .
Kapal cadik Borobudur
pada saat itu melambangkan masa kejayaan dari bahari pada masa kerajaan pada
saat itu , yang dimana pada saat itu perahu dibuat berdasarkan relief yang ada
dicandi Borobudur ,yang tempatnya berada dijawa tengah
Cerita petualangan ini bermula dari ketakjuban
Philip Beale, pensiunan perwira angkatan laut Inggris, terhadap panel-panel
relief yang menggambarkan kapal-kapal niaga di Candi Borobudur, Jawa Tengah,
pada tahun 1982. Ada enam buah kapal besar dan empat kapal kecil. Kapal-kapal
besar tersebut menggunakan layar dan cadik, sementara kapal yang lebih kecil
hanya menggunakan dayung. Philip bepikir kapal inilah yang menjadi jembatan
terapung di atas gelombang, penghubung Indonesia dan Afrika pada era awal
milenium. "Seketika itu juga saya langsung bermimpi dapat membuat kembali
kapal itu, dan melayarkannya menyeberangi Samudera Hindia seperti yang
dilakukan pada waktu itu," tuturnya.
Ketakjuban
tersebut berlanjut kepada mimpi, dan impian itu disimpan oleh Philip selama 20
tahun, hingga akhirnya ia bersua dengan Nick Burningham, di Italia, pada bulan
September 2002. Nick adalah seorang arkeolog maritim berkebangsaan Australia
yang menguasai teknologi kapal tradisional Nusantara. Kajian intensif dari segi
teknik dan akademik pun dilakukan oleh mereka berdua untuk mewujudkan impian
Philip tersebut.
Seorang arkeologi
maritime yang berkebangsaan Australia yang bernama Nick burningham yang
tertarik pada pembuatan kapal tradisional yang ada diindonesia.Selama lebih
dari 20 tahun nick burningham melakukan penelitian yang dilakukan secara
tradisional diindonesia.Karya yang terbesar yang dilakukan Nick adalah
merekonstruksi kapal Borobudur yang terdapat pada dinding candi Borobudur.
Namun hal gagasan yang dilakukan nick bukan konstruksi dari nick
melainkan konstruksi Philip beale seorang yang berwarga negara Inggris yang
sangat terobsesi dengan relief perahu yang berada di candi Borobudur pada saat
mengunjungi ndonesia pada tahun 1982 . Philip beale kemudian mencoba melayarkan
perahu Borobudur tersebut dari Indonesia ke madagaskar lalu diteruskan ke
Negara afrika barat bersama tim kerjanya menggunakan kapal Borobudur untuk
mencoba kekuatan dari kapal Borobudur tersebut dan ada inilah Negara-negara
yang dilewati oleh kapal cadik Borobudur amerika serikat, inggris, iran, afrika
selatan, selandia baru, australia bahkan salah seorang produser film untuk bbc
juga turut serta sebagai crew kapal borobudur.
Dengan cara membuat
perahu semirip mungkin dengan aslinya yang ada di relief candik Borobudur,
dengan mulai menggambarkan didesigen perahu yang berbeda jenisnya,dimulai dari
berapa besar ukuran perahu tersebut dan mesin-mesin yang digunakan dan bahan
yang digunakan dalam pembuatan yang digunakan dalam pembuatan perahu tersebut.
Philip dan Nick mulai meneliti dengan mengandalkan bekas-bekas peninggalan yang
ada .Yang dimana jaman dahulu pelaut yang ada di Nusantara yang bedagang kayu
manis hingga kenegara Afriaka dan beberapa Negara lainnya.dengan demikian
Philip dan nick memperkirakan jarak yang ditempuh, bawaan yang dibawa oleh para
pelaut dahulu,dengan demikian mereka dapat memprediksikan apa yang mereka
butuhkan dalam pembuatan perahu cadik Borobudur.
Setelah sudah
mendesigen dimensi perahu tersebut, namun para peneliti perahu masih merasa
bingung dengan kapal Borobudur dikarena kapal tersebut memiliki cadik
berapa dan mereka bingung dengan pembuatan perahu cadik berapa yang dibuat
dalam pembuatan cadik . mengingat relief candi itu hanya memperlihatkan perahu
dari satu sisi Lalu para tokoh tersebut belajar mengetahui itu semu dari
perahu-perahu tradisional yang ada disekitar nusantara. Lalu setelah mengerti
mereka menyimpulkan kapal tersebut memiliki cadik ganda , dibilang ganda
Karena kapal dilihat kalau bercandik tunggal biasanya memerlukan awak
sebagai penyeimbangan,maka dengan pola pikir bila kapal berjalan jauh tidak
mungkin hanya memiliki satu cadik , maka dengan itu menyimpulkan bahwa perahu
memiliki cadik yang ganda.setela ukuran cadik juga sempat jadi
kebimbangan karena kebanyakan kapal memiliki cadik paling tidak sama panjang
dengan badan perahu cadik Borobudur .di gambaran relief candi Borobudur cadik
yang ada di kapal jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran badan perahunya
itu sendiri. Cadik tersebut bahkan mengambang dan tidak menyentuh air. Cadik
semacam ini akan memiliki daya apung dan fungsi keseimbangan lebih kecil
dibanding cadik panjang yang menyentuh air. Namun karena ukuran bambu yang
tersedia - seperti masalah yang mungkin dihadapi kapal Borobudur zaman dulu -
maka replika kapal Borobudur pun dibuat dengan cadik pendek. Hal-hal lain yang
juga harus diinterpretasikan sendiri adalah konstruksi lambung kapal, yang
akhirnya ditiru dari kapal-kapal tradisional yang ada di Indonesia.Dan konon
dahulu kapal cadik Borobudur terbuat dari bahan-bahan berikut terbuat dari
bambu,kayu ulin , layarnya yang terbuaat dari karung bekas dari beras ,dan tali
kapal terbuat dari serat nanas serta ijuk, yang dimana pada saat itu perahu
bercadik ini disebut dengan kapal samudera raksasa yang berarti penakluk lautan
Sebelum melakukan
pelayaran kapal Borobudur nick dan Philip merekkonstruksikan kapal tersebut.
Lalu seorang warga Negara yang berasar dari jepang yang bernama Yoshiyuki
yamamoto,yang ikut menjadi expedition leader ekspedisi kapal spirit of
majapahit pada tahun 2010, ia berhasil merekonstruksikan kapal Borobudur pada
tahun 1992 lalu ia langsung melayarkan kapalnya kenegaranya. Setelah ia membawa
berlayar kapal Borobudur kenegaranya Yoshiyuki yamamoto menyimpan kapal
tersebut untuk dibudidayakan didenagaranya ia menyimpannya kedalam museum
maritim Osaka di jepang. Pada saat itu bangsa Indonesia dikejutkan dengan
kehadirannya japan majapahit association yang tertarik dalam meneliti tentang
peninggalan jaman kekaisaran pada masa kerajaan majapahit.
Pada tahun 1982P hilip
beale seorang bekas mantan angkatan laut britania datang mengunjungi candi
Borobudur yang dimana di dalam candi Borobudur menggambarkan perahu kuno.Ia
ingin pempelajari perahu tradisional yang ada diindonesia dan tradisi bahari
yang ada dinusantara. Ia tertarik pada sepuluh relief yang ada didinding
Borobudur yang menggambarkan perahu kona yang dipakai oleh nenek moyang dulu
bila ingin menjelajahi nusantara.Semenjak itu Philip beale ia tertarik dan
berencana untuk membangun kembali kapal-kapal kuno yang ada dicandi Borobudur
yang salah satunya adalah perahu cadik Borobudur tersebut.Ia melakukan dengan
napak tilas perjalanan perdagangan bahari purba dahulu. Dengan menggunakan
barang bawaan yang seadanya Philip beale bersikeras untuk menggelar ekpedisi
napak tilas pelayaran purba dari Jakarta,Indonesia menuju madagaskar,dan kalau
memang memungkinkan akan terus melampaui tanjung Harap di ujung selatan tanjung
Harap diujung selatan Afrika hingga menyusuri pantai barat afrika .
Kapal Borobudur
berperan besar dalam membantu orang Jawa dibidang pelayaran , selama beberapa
tahun tepatnya pada abad yang ke-13. Namun pada abad ke-8 Perahu cadik
Borobudur mulai dilupakan dikarenakan adanya kapal jawa yang berukuran lebih
besar dari ukuran cadik borobudur dengan ukuran yang jauh lebih besar yang
dimana kapal tersebut menggunakan tiga atau empat layar sebagai jung untuk
digunakan dalam berlayar. Pelaut protugis menyebut juncos, pelaut yang berasal
dari italia menyebut kapal tersebut adalah zonchi. Istilaah ini digunakan
dalam catatan perjalanan Rahib Pdrico Jonhan de Marignolli dan lbn Battuta,
yang dimana mereka berlayar kenusantara pada awal abad yang ke-14 yang diaman
mereka memuji kehebatan kapal jawa tersebut karena berukuran raksaksa yang
dimana disebut penguasa laut asia tenggara.
Jadi perahu cadik
Borobudur ini adalah salah satu perahu tertua di asia karena merupakan
peninggalan nenek moyang jaman dahulu pada saat itu, yang dimana pada diabad
yang ke-8. Yang dimana perahu ini berciri khas dan indentik dinusantara , bobot
kapal cadik Borobudur saat itu mencapai 60ton beratnya serta muat orang yang
mengisi kapal tersebut 12-24 orang awak. Yang diamana perahu ini terbuat dari
komponen kayu yang dimana dari kayu papan untuk dinding menggunakan gading
gajah ,tambuku,tali ijuk dan stringer.Kayu yang digunakan juga tidak sembarang
kayu mereka menggunakan kayu yang terbaik dalam membuatnya , diantaranya kayu
nyatok berupa papan untuk lambung perahunya untuk pasaknya, dan kayu kuling
untuk stringer dan mereka memperoleh kayu-kayu itu semua dari wilayah asia
Tenggara khususnya dipulau sumatera dan kepulauan Kalimantan.
Perahu candik sangat
berbeda dengan perahu-perahu yang ada karena perahu cadik mengandalkan dua buah
cadik yang ada dikiri dan dikanan yang berguna sebagai alat penyeimbang perahu
dalam berlayar. Perahu cadik Borobudur ini
bergambarkan dalam perkembangan perahu-perahu yang ada di nusantara dan
perahu-perahu yang bersejarah , yang diaman pada saat itu berdirinya
kerajaan-kerajaan seperti sriwijaya, majapahit, masa kolonial, dan masa
kemerdekaan dimasa sekarang bahkan dimasa depan.Untuk terus mengembangkan
kecanggihan-kecanggihan perahu yang ada.
Banyak
pendapat menyebutkan, Istilah jung berasal dari kata chuan dari bahasa Mandarin
yang berarti perahu. Hanya saja, perubahan pengucapan dari chuan menjadi jung
nampaknya terlalu jauh. Yang lebih mendekati adalah “jong’ dalam bahasa Jawa
dan beberapa berpendapat dari kata jungkung. Kata jong dapat ditemukan dalam
sejumlah prasasti Jawa kuno abad ke 9. Undang-undang laut Melayu yang disusun
pada abad ke-15 juga menggunakan kata jung untuk menyebut kapal pengangkut
barang sedangkan Jung-jung China lebih banyak melayani angkutan sungai atau pantai
ada dugaan teknologi kapal jung dipelajari bangsa China dari pelaut-pelaut
Nusantara, bukan sebaliknya.
Jauh
sebelum Cheng Ho dan Columbus membuat sejarah pelayaran mereka yang dikatakan
fenomenal, para penjelajah laut Nusantara sudah melintasi sepertiga bola dunia.
Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan
beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran, hingga abad VII kecil sekali peran
kapal China dalam pelayaran laut lepas. Dalam catatan perjalanan keagamaan
I-Tsing (671-695 M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan
disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu
menguasai lalu lintas pelayaran di ”Laut Selatan”.
Diego
de Couto dalam buku Da Asia, terbit 1645. Bahkan, pelaut Portugis yang
menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 itu menyebutkan bahwa: “Orang
Jawa sangat berpengalaman dalam seni navigasi. Mereka dianggap sebagai perintis
seni paling kuno ini. Walaupun banyak yang menunjukkan bahwa orang Tionghoa
lebih berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan
dari mereka kepada orang Jawa.”
Tatkala
pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka
menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung Nusantara. Kapal dagang milik
orang Nusantara ini menguasai jalur rempah rempah yang sangat vital, antara
Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis menjadi
kota orang Nusantara.
Tomé
Pires juga memberikan gambaran keadaan masing-masing pelabuhan tersebut (Cortesao,
1967: 170-173). Bantam merupakan pelabuhan besar terletak di tepi sungai. Dari
pelabuhan ini perdagangan berlangsung hingga Sumatra dan Kepulauan Maladewa.
Barang-barang yang diperdagangkan antara lain beras dan lada. Pomdam juga
merupakan pelabuhan yang baik. Berada pada muara sungai. Kapal besar (junk)
dapat berlabuh di sini. Barang dagangan berupa bahan makanan terutama beras dan
lada. Cheguide merupakan pelabuhan bagus yang bisa didarati kapal besar.
Pelabuhan ini merupakan pintu gerbang ke Jawa dari Pariaman, Andalas,
Tulangbawang, Sekampung dan tempat-tempat lain. Barang-barang dagangan berupa
beras, buah-buahan, lada, dan bahan makanan. Tamgaram juga merupakan pelabuhan
dan kota dagang yang bagus. Barang dagangan sebagaimana pelabuhan yang lain.
Calapa merupakan bandar yang paling bagus. Pelabuhan ini sangat penting dan
terbagus di antara yang lain. Jalinan perdagangannya sangat luas yaitu hingga
Sumatra, Palembang, Laue, Tamjompura, Malaca, Makasar, Jawa dan Madura, serta
beberapa tempat lain. Chemano merupakan pelabuhan yang cukup ramai meskipun
kapal besar tidak dapat berlabuh di sini. Di kota ini sudah banyak warga
muslim. Perdagangan yang dijalin dengan Chemano hingga seluruh Nusantara.
Di
sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jung yang menetap, dan sekaligus
mengendalikan perdagangan internasional. Tukang-tukang kayu dari Nusantara yang
terampil membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara
itu. Bukti kepiawaian orang Nusantara dalam bidang perkapalan juga ditemukan
pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik – belakangan
disebut sebagai “Kapal Borobudur”.
Jung
pada abad ke-15 hingga ke-16 tidak hanya digunakan para pelaut Nusantara. Para
pelaut Tionghoa juga menggunakan kapal layar jenis ini. Jung memegang peranan
penting dalam perdagangan Asia Tenggara masa lampau. Ia menyatukan jalur
perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa (ujung selatan Vietnam) ,
Ayutthaya (Thailand), Aceh, Malaka dan Makassar.
Hanya
saja, keadaan itu berbanding terbalik menjelang akhir abad ke-17, ketika perang
Jawa tidak bisa lagi membawa hasil bumi dengan jungnya ke pelbagai penjuru
dunia. Bahkan, orang Jawa sudah tidak lagi punya galangan kapal. Kantor
Maskapai Perdagangan Hindia-Belanda (VOC) di Batavia melaporkan pada 1677 bahwa
orang-orang Mataram di Jawa Tengah tidak lagi memiliki kapal-kapal besar.
Para
sejarawan menyimpulkan, jung dan tradisi besar maritim Nusantara hancur akibat
ekspansi militer-perniagaan Belanda. Serta, sikap represif Sultan Agung dari
Mataram terhadap kota kota pesisir utara Jawa. Lebih celaka lagi, raja-raja
Mataram pengganti Sultan Agung bersikap anti perniagaan. Apa boleh buat,
kejayaan jung Nusantara hanya tinggal kenangan.
Akan
tetapi, pada abad XVIII masyarakat Nusantara dengan budaya maritimnya yang
kental itu mengalami kemunduran. Monopoli perdagangan dan pelayaran yang
diberlakukan pemerintahan kolonial Belanda, walau tidak mematikan, sangat
membatasi ruang gerak kapal-kapal pelaut Indonesia.
Pendapat Para Ahli
Mengenai Nenek Moyang Bangsa Indonesia
Keberadaan
masyarakat awal di Kepulauan Indonesia diketahui dan didukung oleh beberapa
teori dan pendapat yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh ahli. Beberapa petunjuk
tentang keberadaan masyarakat awal di Kepulauan Indonesia antara lain
dikemukakan oleh tokoh-tokoh di bawah ini.
1. Drs. Moh. Ali
Ali menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan, Cina. Pendapat ini
dipengaruhi oleh pendapat Mens yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal
dari daerah Mongol yang terdesak oleh bangsa-bangsa lebih kuat sehingga mereka
pindah ke selatan, termasuk ke Indonesia. Ali mengemukakan bahwa leluhur orang
Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar yang terletak di daratan Asia dan
mereka berdatangan secara bergelombang. Gelombang pertama berlangsung dari
3.000 hingga 1.500 SM (Proto Melayu) dan gelombang kedua terjadi pada 1.500
hingga 500 SM (Deutro Melayu). Ciri-ciri gelombang pertama adalah kebudayaan
Neolitikum dengan jenis perahu bercadik-satu, sedangkan gelombang kedua
menggunakan perahu bercadik-dua.
2. Prof. Dr. H.
Kern
Ilmuwan asal Belanda
ini menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Kern berpendapat bahwa bahasa - bahasa yang digunakan di kepulauan
Indonesia, Polinesia, Melanesia, Mikronesia memiliki akar bahasa yang sama,
yakni bahasa Austronesia. Kern menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia berawal dari
satu daerah dan menggunakan bahasa Campa. Menurutnya, nenek-moyang bangsa
Indonesia menggunakan perahu-perahu bercadik menuju kepulauan Indonesia.
Pendapat Kern ini didukung oleh adanya persamaan nama dan bahasa yang
dipergunakan di daerah Campa dengan di Indonesia, misalnya kata “kampong” yang banyak digunakan
sebagai kata tempat di Kamboja. Selain nama geografis, istilah-istilah binatang
dan alat perang pun banyak kesamaannya. Tetapi pendapat ini disangkal oleh K.
Himly dan P.W. Schmidt berdasarkan perbendaharaan bahasa Campa.
3. Willem Smith
Melihat asal-usul
bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa oleh orang-orang
Indonesia. Willem Smith membagi bangsa-bangsa di Asia atas dasar bahasa
yang dipakai, yakni bangsa yang berbahasa Togon, bangsa yang berbahasa Jerman,
dan bangsa yang berbahasa Austria. Lalu bahasa Austria
dibagi dua, yaitu bangsa yang berbahasa Austro Asia dan bangsa yang berbahasa
Austronesia. Bangsa-bangsa yang berbahasa
Austronesia ini mendiami wilayah Indonesia,
Melanesia, dan Polinesia
4. Prof. Dr.
Sangkot Marzuki
Menyatakan bahwa nenk
moyang bangsa Indonesia berasal dari Austronesia dataran Sunda. Hal ini didasarkan
hasil penelusuran DNA fosil. Ia menyanggah bahwa
nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, karena Homo Erectus atau
Phitecantropus Erectus ini tidak ada kelanjutannya pada manusia saat ini.
Mereka punah dan digantikan oleh manusia dengan species baru, yang sementara
ini diyakini sebagai nenek moyang manusia yang ditemukan di Afrika.
5. Van Heine
Geldern
Pendapatnya tak jauh berbeda dengan Kern bahwa bahasa Indonesia berasal dari Asia Tengah. Teori Geldern ini
didukung oleh penemuan-penemuan sejumlah artefak, sebagai perwujudan budaya,
yang ditemukan di Indonesia mempunyai banyak kesamaan
dengan yang ditemukan di daratan Asia.
6. Prof. Mohammad
Yamin
Yamin menentang
teori-teori di atas. Ia menyangkal bahwa orang Indonesia berasal dari luar
kepulauan Indonesia. Menurut pandangannya, orang Indonesia adalah asli
berasal dari wilayah Indonesia sendiri. Ia bahkan meyakini bahwa ada sebagian
bangsa atau suku di luar negeri yang berasal dari Indonesia. Yamin menyatakan
bahwa temuan fosil dan artefak lebih banyak dan lengkap di Indonesia daripada daerah
lainnya di Asia, misalnya, temuan fosil Homo atau Pithecanthropus soloensis dan
wajakensis yang tak ditemukan di daerah Asia lain termasuk Indocina (Asia
Tenggara).
7. Prof. Dr. Krom
Menguraikan bahwa
masyarakat awal Indonesia berasal dari Cina
Tengah karena di daerah Cina Tengah banyak terdapat sumber sungai besar. Mereka menyebar ke kawasan Indonesia
sekitar 2.000 SM sampai 1.500 SM.
8. Dr. Brandes
Berpendapat bahwa
suku-suku yang bermukim di kepulauan Indonesia memiliki persamaan dengan
bangsa-bangsa yang bermukim di daerah-daerah yang membentang dari sebelah utara Pulau Formosa di Taiwan, sebelah barat Pulau
Madagaskar; sebelah selatan yaitu Jawa, Bali; sebelah timur hingga ke tepi
pantai bata Amerika. Brandes melakukan penelitian ini berdasarkan perbandingan bahasa.
9. Hogen
Menyatakan bahwa
bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatera. Bangsa Melayu ini
kemudian bercampur dengan bangsa Mongol yang disebut bangsa Proto Melayu
(Melayu Tua) dan Deutro Melayu (Melayu Muda). Bangsa Proto Melayu kemudian
menyebar di sekitar wilayah Indonesia pada tahun 3.000 hingga 1.500 SM,
sedangkan bangsa Deutro Melayu datang ke Indonesia sekitar tahun 1.500 hingga
500 SM.
10. Max Muller
Berpendapat lebih
spesifik, yaitu bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah
Asia Tenggara. Namun, alasan Muller tak didukung oleh alasan yang jelas.
11. Mayundar
Berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, lalu menyebar ke wilayah Indocina terus ke daerah Indonesia dan Pasifik. Teori Mayundar ini didukung oleh penelitiannya bahwa bahasa Austria merupakan bahasa Muda di India bagian timur.
Berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, lalu menyebar ke wilayah Indocina terus ke daerah Indonesia dan Pasifik. Teori Mayundar ini didukung oleh penelitiannya bahwa bahasa Austria merupakan bahasa Muda di India bagian timur.
12. Mens
Berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari bangsa Mongol yang terdesak oleh bangsa - bangsa yang lebih kuat, sehingga mereka terdesak ke selatan termasuk kawasan Indonesia.
Berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari bangsa Mongol yang terdesak oleh bangsa - bangsa yang lebih kuat, sehingga mereka terdesak ke selatan termasuk kawasan Indonesia.
13. Sultan Takdir Alisyahbana
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berasal dari melayu karena berdasarkan rumpun bahasa yang memiliki kesamaan.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berasal dari melayu karena berdasarkan rumpun bahasa yang memiliki kesamaan.
14. Gorys Kraf
Indonesia kebudayaannya lebih tinggi dari kebudayaan wilayah sekitarnya, yang berarti induknya berasal dari Indonesia.
Indonesia kebudayaannya lebih tinggi dari kebudayaan wilayah sekitarnya, yang berarti induknya berasal dari Indonesia.
15. Harry Truman Simandjutak
Bahwa bahasa yang banyak digunakan di Indonesia berasal dari Bahasa Austronesia yang induknya ada di Pulau Formosa, Taiwan.
# Menurut Prof. H.R. Fischer (pengantar
Antropologi kebudayaan Indonesia) bangsa indonesia terbagi menjadi 3 bangsa :
Negroid (orang Tapiro Irian/Papua).
Ciri-ciri : kulit hitam, rambut keriting,
bertubuh kecil.
Weddoid (orang Senoi di Malaya, Sakai di Siak,
Kubu di Palembang).
Ciri-ciri : rambut berombak tegang,
lengkung alis menonjol ke depan, kulit agak coklat.
Melayu (Suku jawa).
Ciri-ciri : tubuh tinggi & ramping,
wajah bulat, hidung pesek, rambut hitam, kulit sawo matang.
Berdasarkan
teori-teori atau pendapat-pendapat dari beberapa ahli disimpulkan, ada dua hal
yang menarik tentang asal-usul bangsa yang menempati daerah kepulauan
Indonesia. Pertama, bangsa Indonesia berasal dari daerah Indonesia
sendiri. Kedua, penduduk yang menempati daerah kepulauan Indonesia
diperkirakan berasal dari daratan Asia.
Walaupun demikian, terdapat pula pendapat
dari beberapa ahli yang menyebutkan bahwa masyarakat awal yang menempati
wilayah Indonesia termasuk rumpun bangsa Melayu. Bangsa Melayu langsung jadi
nenek moyang bangsa Indonesia sekarang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
·
Bangsa
Proto Melayu
Bangsa
ini memasuki wilayah Indonesia dengan melalui dua jalan, yaitu jalan barat
(melalui Semenanjung Melayu terus ke Sumatera dan selanjutnya tersebar ke
seluruh Indonesia) dan jalan timur (melalui Filipina terus ke Sulawesi dan
selanjutnya tersebar ke seluruh Indonesia). Bangsa Proto Melayu kemudian
terdesak ke arah timur setelah kedatangan bangsa Deutro Melayu. Pada masa
sekarang masih dapat ditemukan keturunan bangsa Proto Melayu seperti suku
bangsa Dayak, Toraja, Batak, Papua (Irian Barat) dan sebagainya.
·
Bangsa
Deutro Melayu
Bangsa Deutro Melayu memasuki wilayah Indonesia secara
bergelombang sejak tahun 500 SM. Keturunan bangsa Deutro Melayu misalnya suku
bangsa Jawa, Melayu, Bugis, Minang dan sebagainya. Kebudayaan mereka ini sering
disebut dengan kebudayaan Dong Son (sesuai dengan nama daerah yang banyak
ditemukan benda-benda dari logam di daerah Teluk Tonkin).

Komentar
Posting Komentar